Latest Event Updates

I’tikaf Hanya Pada Malam Hari, Bagaimana Hukumnya?

Posted on

sgsggsgs

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Soal:

Pada hari-hari akhir Ramadhan, kami tidak bisa melakukan i’tikaf di siang hari karena melakukan tugas-tugas pekerjaan. Apakah sah jika kami beri’tikaf  pada malam hari saja, sedangkan siang harinya kami bekerja di tempat kerja kami?

Jawab:

Melakukan i’tikaf boleh walaupun hanya sesaat saja di masjid yang didirikan di dalamnya shalat berjama’ah. Dan juga tetap sah i’tikaf tanpa puasa menurut pendapat yang rajih dari pendapat para ulama. Berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Umar dari Umar bin Khathab radhiallahu’anhuma, bahwa Umar berkata:

يا رسول الله إني نذرت في الجاهلية أن أعتكف ليلة في المسجد الحرام

wahai Rasulullah, dulu di masa Jahiliyah aku pernah bernadzar untuk melakukan i’tikaf di masjidil haram

Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

أوفِ بنذرك فاعتكف ليلة

tunaikan nadzarmu, dan beri’tikaflah satu malam

dikeluarkan oleh Al Bukhari dan Muslim, dan ini adalah lafadz Al Bukhari (2/260).

Andaikan puasa adalah syarat dari i’tikaf, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak akan menetapkan bolehnya beri’tikaf satu malam saja. Oleh karena itu boleh bagi anda untuk meniatkan i’tikaf satu malam saja tanpa beri’tikaf siang harinya, sebagaimana yang anda sebutkan. Dan anda akan mendapatkan pahala sekadar itu, insya Allah.

Wabillahit taufiq, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi wasallam

***

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/59459

Penerjemah: Yulian Purnama

Iklan

Makan Atau Sholat Dahulu Ketika Makanan Telah Siap

Posted on Updated on

sholatmakanFatwa Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan

Soal:

Jika makanan telah dihidangkan ketika adzan sudah berkumandang apakah ada keringanan meninggalkan shalat jama’ah? mohon sebutkan dalilnya

Jawab:

Jika memang sangat membutuhkan makanan tersebut atau hati anda sangat menginginkannya, maka jawabnya iya. Anda boleh makan makan tersebut sampai hati anda tenang. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا حضر العشاء، فابدءوا به

Jika makan malam telah dihidangkan maka dahulukanlah ia..

Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

لا صلاة بحضرة طعام، ولا وهو يدافعه الأخبثان

Tidak ada shalat ketika makanan dihidangkan, dan tidak ada shalat ketika ingin buang air besar atau buang air kecil

Namun jangan jadikan ini sebagai kebiasaan setiap datang waktu shalat. Yang demikian hanya sesekali saja, jika terjadi secara kebetulan tanpa disengaja. Adapun menyengaja menjadikan waktu makan pada waktu-waktu shalat, ini tidak diperbolehkan. Demikian.

Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/14195

Anjuran Untuk Hemat Menggunakan Air

Posted on Updated on

Tips-Menghemat-AirMusim hujan telah tiba. Air berlimpah ruah di mana-mana. Dan sebagian di antara kita, mungkin menjadi boros ketika menggunakan air di musim hujan ini. Namun, tahukah kita bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan untuk hemat dan tidak berlebih-lebihan dalam menggunakan air?

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ، وَيَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ، إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu dengan satu mud (air) dan mandi dengan satu sha’ sampai lima mud (air)” (HR. Bukhari no. 198 dan Muslim no. 325).

Satu sha’ sama dengan empat mud. Satu mud kurang lebih setengah liter atau kurang lebih (seukuran) memenuhi dua telapak tangan orang dewasa. [1]

Lihatlah contoh teladan dari panutan kita, yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau berwudhu, beliau hanya menghabiskan satu mud air. Padahal wudhu adalah salah satu ibadah yang penting, di mana shalat tidaklah diterima tanpa berwudhu dalam kondisi berhadats (tidak suci dari najis). Jika dalam ibadah saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan untuk menghemat air, lalu bagaimana lagi jika menggunakan air di luar keperluan ibadah kepada Allah Ta’ala? Tentu lebih layak lagi untuk berhemat dan disesuaikan dengan kebutuhan kita, serta jangan berlebih-lebihan.

Penulis kitab Shifat Wudhu Nabi, Fahd bin Abdurrahman Ad-Dausri, mengatakan, ”Jika Engkau –saudaraku muslim- merenungkan hadits ini dengan baik, maka Engkau akan tercengang dengan apa yang dilakukan oleh sebagian orang di jaman kita ini ketika mereka membuka keran air untuk berwudhu sambil terkadang bercakap-cakap dengan teman di dekatnya sedangkan air terus mengalir (keran tidak ditutup). Betapa borosnya tindakan ini! Bertakwalah kepada Allah. Renungkanlah hadits ini dan jadikanlah hadits ini di depan penglihatanmu. Ikutilah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesederhanaan dan tidak berlebih-lebihan (menggunakan air), sehingga tampaklah ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi) dan keimanan seorang muslim yang sebenarnya. Termasuk sunnah (Nabi) adalah jika seorang muslim hendak berwudhu, dia mengambil wadah yang kira-kira bisa menampung satu mud air dalam rangka mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[2]

Lalu bagaimana jika kita mampu berwudhu menggunakan kurang dari satu mud air atau mandi menggunakan kurang dari satu sha’ air?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu tidaklah mencukupi karena hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di atas. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa satu mud atau satu sha’ air bukanlah batas minimal yang diharuskan. Hadits di atas hanyalah menceritakan kadar air yang telah mencukupi bagi wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan batas minimal yang diharuskan sehingga tidak boleh berwudhu atau mandi kurang dari kadar tersebut. Tujuannya adalah sebagai peringatan adanya keutamaan untuk bersikap sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Oleh karena itu, dianjurkan bagi yang mampu menyempurnakan wudhunya dengan kadar air yang sedikit untuk berhemat dalam menggunakan air dan tidak melebihi kadar tersebut. Karena sikap boros dan berlebih-lebihan dilarang dalam syariat. [3]

Wallahu a’lam.

***

Selesai disusun di malam hari, Masjid Nasuha ISR Rotterdam, 2 Rabiul Awwal 1436

Catatan kaki:

[1] Lihat Shahih Fiqh Sunnah 1/126 dan Shifat Wudhu Nabi, hal. 37. [2] Shifat Wudhu Nabi, hal. 37. [3] Syarh Shahih Bukhari li Ibnil Baththal, 1/302 (Maktabah Syamilah)

Penulis: M. Saifudin Hakim

Artikel Muslim.Or.Id

Dengan Apa Umat Islam Ini Mulia Dan Jaya?

Posted on Updated on

kaligrafi_lailahailallah_by_febriramadani912-d76z9gjBismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, Pernahkah Anda mendengar ungkapan-ungkapan berikut ini? Wah, hari-hari gini masih bicara masalah Tauhid orang kan udah gak percaya lagi sama yang namanya dukun, klenik, tukang sihir, itu sih kepercayaan orang-orang tempoe doeloe.” Jangan ketinggalan zaman, negara kuat itu dengan teknologi, lihat itu negara-negara maju! Janganlah banyak membicarakan tentang keyakinan, kepercayaan itu urusan pribadi.” Kalau perekonomian kuat, pasti negara kuat, negara kita itu ketinggalan jauh, jadi pengekor, karena memang negara ini negara miskin Intinya itu di duit.” Wahai umat Islam! Bangkitlah! Jangan mau jadi umat bawahan! Mari rebut tampuk kekuasaan! Ajari para pemuda bagaimana berpolitik agar mereka memiliki kesadaran politik yang tinggi!”

Tanggapan

Jika maksud ucapan yang pertama adalah bahwa seluruh umat Islam telah bertauhid dengan sempurna, pelanggaran tauhid sangatlah minim, oleh karena itu tinggalkan berbicara tentang tauhid, maka ini adalah pandangan yang menyelisihi kenyataan umat sekarang, bahkan menyelisihi manhaj (metodologi) para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam membina umat!

  1. Jika maksud ucapan yang kedua adalah bahwa teknologi itu asas kemajuan umat Islam, maka ini tidak benar, pandangan ini menyelisihi manhaj (metodologi) para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam meraih kejayaan umat. Walaupun memang tidak diragukan lagi teknologi itu penting, namun bukan perkara yang asasi (pokok kejayaan umat Islam).
  2. Jika maksud ucapan yang ketiga adalah ekonomi adalah yang pertama dan utama dalam meraih kejayaan umat, maka inipun keliru dalam memandang hakikat kejayaan umat.
  3. Jika maksud ucapan yang keempat adalah khilafah islamiyyah adalah tujuan dan perkara yang terpenting, maka hal ini sudah dijelaskan kesalahannya dalam artikel Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan, benarkah?

Hakikat kejayaan dengan ilmu Syar’i

Jika Anda memperhatikan ajaran Islam ini dengan baik, maka Anda akan dapatkan bahwa hakikat kejayaan umat Islam ini diraih dengan ilmu syar’i (yang diamalkan tentunya). Oleh karena itu, di antara prinsip ahlus sunnah wal jama’ah yang terpenting adalah “Meraih kemuliaan dengan ilmu syar’i”. Prinsip inilah yang harus diperhatikan oleh para aktivis dakwah Islam, tokoh-tokoh masyarakat dan para pemimpin negara, bahkan oleh seluruh kaum muslimin. Betapa banyak kaum muslimin terjebak ke dalam permainan musuh-musuh Islam yang menyerang kaum muslimin dari berbagai arah. Setiap kali musuh-musuh Islam berbuat makar dalam bidang tertentu, maka perhatian sebagian aktivis dakwah tertuju kepada melawan serangan tersebut dengan gerakan tandingan yang lebih kuat lagi atau minimalnya yang sebanding, tanpa memperhatikan rambu-rambu syari’at. Ketika mereka menyusun makar dalam bidang ekonomi, dengan mensosialisasikan sistem ekonomi yang bertentangan dengan syari’at, maka sebagian da’i menandinginya dengan move-move ekonomi Syari’ah. Ketika mereka menyerang kaum muslimin dengan serangan teknologi, maka sebagaian kaum muslimin disibukkan menandinginya dengan teknologi yang semisalnya atau lebih tinggi. Ketika mereka nampak mengusai jabatan-jabatan strategis di pemerintahan, maka tampillah partai-partai Islam mengerahkan segala daya upaya untuk merebut jabatan-jabatan ‘strategis’ tersebut! Memang benar, semua usaha melawan serangan-serangan makar musuh-musuh Islam dalam berbagai bidang asal dilakukan sesuai dengan rambu-rambu Islam, bersikap tengah-tengah, tidak berlebih-lebihan, tidak pula mengurangi, maka itu adalah suatu usaha yang wajib kita syukuri.

Permasalahannya

Ketika semua langkah-langkah dakwah tersebut di atas kurang diperhatikan, manhaj dakwah yang benar tidak diketahui, skala prioritas dakwah tak dipedulikan, serta  kaidah pertimbangan maslahat dan mudharat dengan bimbingan ulama salafush shalih tidak digunakan -hakikatnya semua itu bersumber dari sangat kurangnya ilmu tentang mengenal Allah dan agama-Nya-  maka ia akan terjebak ke dalam permainan musuh-musuh Islam. Seolah dia berperang menghadapi musuh tanpa strategi yang tepat, bahkan justru termakan strategi musuh. Hal ini seperti mengobati penyakit tanpa mengetahui mana penyakit yang paling ganas dan mana penyakit yang ringan, serta tidak tahu bagaimana penganganan yang tepat. Syaikh Ramadhani hafizhahullah dalam kitab Sittu Durar min Ushul Ahlil Atsar berkata, “Prinsip (Ahlus Sunnah) keempat: Meraih kemuliaan dengan ilmu (agama Islam) Bab ini termasuk salah satu prinsip yang terpenting dari enam prinsip Ahlul Atsar karena tujuannya adalah menjelaskan pokok amal yang selayaknya mendasari seluruh langkah karena walaupun sebuah jama’ah (dakwah) mendapatkan aksi makar musuh yang menakutkan, yang mana kekuatan kekufuran dan kesesatan berusaha keras untuk melancarkan aksi tersebut, kemudian jama’ah dakwah tersebut memandang bahwa kejayaan umat akan kembali kepada mereka dengan sekedar menghadapi aksi musuh dengan aksi yang lebih kuat darinya, sehingga mereka mengerahkan seluruh sarana yang dimilikinya untuk menandingi musuh-musuh Islam, namun, di sisi lain ternyata, mereka teledor dalam memperhatikan ilmu syar’i dengan keteledoran yang mencolok. Padahal hakikat yang sesungguhnya bahwa walaupun mereka (jama’ah dakwah) telah menyusun gerakan dengan rapi, telah membaguskan strategi dan mengintensifkan aksi serta telah berusaha menjaga (umat) dari makar musuh, maka tetap saja tidak akan ditulis bagi mereka kemuliaan dan ketinggian derajat, sampai mendasari amal mereka di atas ilmu syar’i dan mengenal (dengan baik) kedudukan ilmu syar’i dan ahlinya (ulama), Allah Ta’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama Allah) beberapa derajat” (Al-Mujaadilah: 11).

Nasihat Seorang Ulama Rabbani

Seorang mufti besar dunia, Syaikh Bin Baz rahimahullah, ketika berbicara tentang sebab kelemahan dan kemunduran kaum muslimin menjelaskan tentang pentingnya mendiagnosa akar masalah dengan tepat dan memberikan solusi yang sesuai dengannya, beliau berkata:

فإن وصف الداء ثم الدواء من أعظم أسباب الشفاء والعافية

“Sesungguhnya penyebutan penyakit dan obatnya (dengan tepat), hal itu merupakan sebab kesembuhan dan kesehatan yang terbesar” Beliau juga mengatakan,

وترجع أسباب الضعف والتأخر وتسليط الأعداء إلى سبب نشأت عنه أسباب كثيرة وعامل واحد نشأت عنه عوامل كثيرة، وهذا السبب الواحد والعامل الواحد هو: الجهل؛ الجهل بالله وبدينه  وبالعواقب التي استولت على الأكثرية، فصار العلم قليلاً والجهل غالبا

“Dan sebab-sebab kelemahan dan kemunduran serta berkuasanya musuh (atas kaum muslimin) sebenarnya kembali kepada satu sebab (saja), yang darinya lahirlah sebab-sebab yang banyak, berawal dari satu faktor pengaruh, lalu melahirkan faktor-faktor pengaruh lainnya yang banyak. Adapun sebab dan faktor pengaruh yang satu itu adalah kebodohan, yaitu tidak mengenal Allah dan agama-Nya dengan baik! Dan akibat buruknya menimpa mayoritas (manusia), maka (ketika itu) ilmu (agama Islam) menjadi sedikit dan kebodohan mendominasi”

وعن هذا الجهل نشأت أسباب وعوامل منها حب الدنيا وكراهية الموت، ومنها إضاعة الصلوات واتباع الشهوات، ومنها عدم الإعداد للعدو

“Kebodohan (terhadap Allah dan agama-Nya) inilah, terlahir berbagai sebab dan faktor pengaruh yang buruk berupa cinta dunia (yang berlebihan), membenci kematian, menelantarkan shalat dan mengikuti syahwat, tidak mempersiapkan diri menghadapi musuh” Sampai perkataan beliau,

ونشأ عن ذلك أيضا التفرق والاختلاف وعدم جمع الكلمة وعدم الاتحاد وعدم التعاون. فعن هذه الأسباب الخطيرة وثمراتها وموجباتها حصل ما حصل من الضعف أمام العدو والتأخر في كل شيء إلا ما شاء الله

“Dan juga demikian, terlahirlah dari satu sebab itu (kebodohan terhadap Allah dan agama-Nya, pent.) perpecahan dan perselisihan, tidak merapatkan barisan, tak bersatu dan tak pula saling tolong-menolong. Dari sebab-sebab yang bahaya inilah, berikut buah pahit dan konsekuensinya, maka terjadilah apa yang terjadi berupa kelemahan dan kemunduran di hadapan musuh Islam dalam seluruh bidang kecuali bidang yang Allah kehendaki (tidak mengalami kelemahan dan kemunduran)” Selanjutnya Syaikh Bin Baz rahimahullah menyebutkan dalil-dalil tentang kesimpulannya bahwa akar masalah kelemahan dan kemunduran umat Islam ini adalah kebodohan terhadap Allah dan  agama-Nya, beliau berkata:

ويدل على أن أعظم الأسباب هو الجهل بالله وبدينه وبالحقائق التي يجب التمسك والأخذ بها – هو قول النبي صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح: ((من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين)) رواه الشيخان البخاري ومسلم في الصحيحين مع آيات في المعنى وأحاديث كلها تدل على خبث الجهل وخبث عواقبه ونهايته

“Dan (dalil) yang menunjukkan bahwa sebab terbesar kelemahan dan kemunduran umat Islam adalah tidak mengenal Allah dan agama-Nya serta hakekat yang wajib dipegang dan diambil, adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih”  

(من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين)

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan memahamkan agama ini kepadanya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim), dan juga beberapa Ayat dan hadits yang menunjukkan kepada makna ini, semua dalil tersebut menunjukkan buruknya kebodohan dan keburukan akibat serta kesudahannya. Jadi, dari beberapa penjelasan Syaikh Bin Baz rahimahullah di atas, dapat kita pahami sebab yang terpenting dan asas perbaikan masyarakat adalah mengenal Allah dan agama-Nya, bukan asal melawan makar musuh dengan tindakan dan perlawanan yang sepadan! karena apalah gunanya hal itu semua dilakukan jika diiringi menelantarkan sesuatu yang terbesar dalam Islam? Yaitu, menelantarkan ma’rifatullah (mengenal Allah), sehingga tidak mengenal hak-hak-Nya dan tidak mentauhidkan-Nya dengan baik. Oleh karena itu Syaikh Bin Baz rahimahullah juga mengatakan,

فإن الله سبحانه وتعالى يقول: {وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ}إلخ، ولم يقل وأعدوا لهم مثل قوتهم؛ لأن هذا قد لا يستطاع.

Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ)

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (Al-Anfaal:60) dan seterusnya. (Dalam Ayat ini) Allah tidak berfirman, ‘Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang sepadan dengan kekuatan mereka’ karena seperti itu terkadang sesuatu yang tidak mampu dilakukan. Asalkan kaum muslimin benar dalam membangun keimanannya dan dalam memperbaiki diri mereka, dimulai dengan memperhatikan perkara yang terpenting kemudian sesudahnya dan sesudahnya, maka walaupun kekuatan fisik mereka tidak sepadan dengan kekuatan fisik musuh-musuh Islam, tetaplah Allah akan menolong mereka, karena kekuatan yang terpokok yaitu kekuatan iman (tauhid) mereka kokoh, ikhlas hatinya dan langkah mereka dalam memperbaiki diri benar (baca: dakwah mereka sesuai dengan As-Sunnah). Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian” (Muhammad:7). Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan Ayat di atas,

هذا أمر منه تعالى للمؤمنين، أن ينصروا الله بالقيام بدينه، والدعوة إليه، وجهاد أعدائه، والقصد بذلك وجه الله، فإنهم إذا فعلوا ذلك، نصرهم الله وثبت أقدامهم

“Ini adalah perintah dai Allah Ta’ala kepada kaum mukminin agar menolong agama Allah dengan melaksanakan agama-Nya sebaik-baiknya, mengajak manusia kepada-Nya (berdakwah), berjihad melawan musuh-musuh-Nya dan mendasari semua itu dengan niat ikhlas mengharap bisa melihat wajah-Nya (saat berjumpa dengan-Nya, pent.). Jika mereka melakukan hal itu, niscaya Allah menolong mereka dan meneguhkan kedudukan mereka.” Demikian pula, dari penjelasan Syaikh Bin Baz rahimahullah di atas, dapat disimpulkan bahwa bukanlah yang terpenting dalam menyelesaikan problematika umat adalah asal mengobati penyakit umat setiap kali ditemukan penyakit tersebut tanpa memilih mana yang perlu diobati terlebih dahulu dan mana yang butuh untuk mendapatkan perhatian terbesar sebelum yang lainnya. Yang benar adalah perkara yang terpenting dan mendasar dalam dakwah kita adalah apakah tindakan yang kita lakukan sesuai dengan apa yang dilakukan oleh para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam -khususnya orang yang paling mulia di antara mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Atau dengan kata lain, apakah manhaj (metodologi) dakwah kita sama dengan manhaj dakwah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam ? Jika memang sama, maka tentunya akan menemukan akar masalah terbesar yang sama dalam menyelesaikan problematika umat di zaman ini, yaitu  kebodohan, tidak mengenal Allah dan agama-Nya dengan baik, hal itu berarti bahwa hakikat kejayaan dan kemuliaan umat Islam ini ada pada ilmu agama Islam, sebuah ilmu yang menjadi penuntun setiap langkah umat. Allah akan menjadikan jaya dan mulia sebuah umat dan mengangkat derajat mereka jika mereka berilmu sehingga benar amal mereka, Allah berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama Allah) beberapa derajat” (Al-Mujaadilah: 11) . Imam Malik rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,

نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ

“Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki” (Yusuf:76), beliau berkata

بالعلم

(Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki) dengan sebab ilmu (agama Allah)” Guru beliau pun, ‘Allamah Zaid bin Aslam rahimahullah menafsirkannya,

إنه العلم، يرفع الله به من يشاء في الدنيا

“Sesungguhnya (penyebab ditinggikannya derajat seseorang) adalah ilmu (agama Allah), Allah menninggikan derajat hamba yang Allah kehendaki di dunia” Jadi, dikarenakan inti permasalahannya ada pada tidak mengenal Allah dan agama-Nya dengan baik, maka pantas jika kunci dakwah seluruh para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah tauhid. Karena Tauhid merupakan bentuk mengenal Allah dan agama-Nya yang terbesar, ia adalah sebuah ajaran yang teragung dan paling mendasar dalam Islam. Oleh karena itu Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bagaimana kedudukan tauhid dalam dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, “Tauhid kunci dakwah para Rasul”. Nah, bagaimanakah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya masing-masing? Ikuti kelanjutannya di artikel berikutnya. (Beginilah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya masing-masing). *** Diolah dari http://www.binbaz.org.sa/node/8274 dan Sittu Durar, Syaikh Ramadhani. Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah Artikel Muslim.or.id

Kepribadian dan Golongan Darah, dosa kah?

Posted on Updated on

usssrlSetelah kami melihat pada beberapa jurnal dan penelitian ilmiah, ternyata tidak ada hubungan sama sekali antara karakteristik dan golongan darah. Bahkan sebuah penelitian di Jepang, di mana Jepang diberitakan sebagai sumbernya dan sempat menjadi trend di sana, hasil penelitian di Jepang tersebut menunjukkan tidak ada hubungan sama sekali.

Berikut kami nukilkan jurnal penelitiannya:

Despite the widespread popular belief in Japan about a relationship between personality and ABO blood type, this association has not been empirically substantiated. This study provides more robust evidence that there is NO RELATIONSHIP between blood type and personality, through a secondary analysis of LARGE-SCALE survey data. Recent data (after 2000) were collected using large-scale random sampling from OVER 10,000 PEOPLE in total from both Japan and the US. Effect sizes were calculated. Japanese datasets from 2004 (N = 2,878–2,938), and 2,005 (N = 3,618–3,692) as well as one dataset from the US in 2004 (N = 3,037–3,092) were used. In all the datasets, 65 of 68 items yielded non-significant differences between blood groups. Effect sizes (η2) were less than .003. This means that blood type explained less than 0.3% of the total variance in personality. These results show the NON-RELEVANCE of blood type for personality”.1

Kami pun sekarang sedang menempuh spesialis patologi klinik yang salah satu fokusnya adalah mempelajari darah, komponen serta penyakit terkait dengan darah. Sejauh yang kami pelajari, tidak dijumpai ada komponen atau zat dalam setiap golongan darah yang bisa menyebabkan perbedaan sifat atau mempengaruhi karakter khas seseorang berdasarkan golongan darah. Selain itu jika kita mepelajari lebih detail, golongan darah banyak jenis dan pengelompokannya, bukan hanya golongan A, B, AB dan O.

Secara rasional pun, terlalu sempit jika membatasi sifat manusia yang sangat banyak hanya dengan empat golongan darah saja. Misalnya, betapa banyak orang bergolongan darah O yang sangat pemarah, ada pula orang bergolongan darah O yang sangat sabar dan ada pula yang tengah-tengah.

Jika terbukti tidak ada hubungannya sebaiknya dijauhi

Meskipun hanya iseng dan sekedar main-main saja, sebaiknya dijauhi. Karena hal ini dikhawatirkan termasuk meramal yang dilarang dalam agama dan termasuk kesyirikan yang merupakan larangan terbesar dalam agama. Sebagaimana zodiak dan menebak-nebak nasib, sifat karakter dan peruntungan.

Perlu dibedakan antara ramalan dan prediksi berdasarkan indikasi. Ramalan tidak diperbolehkan, sedangkan prediksi boleh. Agar lebih paham beda ramalan dan prediksi, perlu diketahui mengenai hukum sebab-akibat.

Sebab ada dua yaitu sebab syar’i dan sebab qadari.

1. Sebab syar’i:

Sebab yang ditunjukkan oleh dalil Al-Qur’an atau hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini bisa kita sebut sebagai sebab walaupun tidak atau hanya belum terbukti secara ilmiah, dengan penelitian atau logika. Karena yang menyatakannya sebagai sebab adalah kabar dari Allah Ta’ala dan hadits Nabi (yang juga bersumber dari Allah Ta’ala). Tentu Allah Subhanahu wa ta’ala lebih mengetahui ciptaan-Nya.

Contoh:

  • Maksiat menyebabkan bencana.
  • Doa dan sedekah bisa menyembuhkan penyakit.
  • Sahabat meruqyah yang terkena racun kalajengking, cukup dibacakan dengan Al-Fatihah saja dan langsung sembuh saat itu juga.
2. Sebab qadari:

Yaitu sebab yang dibuktikan dengan pengalaman, logika dan penelitian ilmiah sebagai sebab dari sesuatu. Sebab qadari ada yang dengan cara halal/benar dan ada juga yang haram. Contohnya:

  • sebab qadari yang halal/benar, misalnya: api bisa membakar, rajin belajar bisa pandai, jatuh akan membuat sakit, buang sampah di sungai bisa menyebabkan banjir, dll.
  • sebab qadari yang haram: dengan mencuri bisa dapat harta.

Jika mengaitkan suatu hal, pada sebab yang bukan sebab syar’i maupun sebab qadari, maka ini berarti mengaitkan sesuatu bukan pada sebabnya. Dan ini bisa menjerumuskan orang pada perbuatan khurafat, tahayul, dan meramal hal gaib.

Pada kasus menebak karakteristik berdasarkan golongan darah bisa jadi masuk dalam hal ini, karena tidak terbukti secara sebab syar’i maupun sebab qadari. Maka ini dikhawatirkan menebak yang termasuk meramal.

Adapun prediksi atau ramalan yang sifatnya hissiy (memiliki komponen nyata yang bisa diukur) dan taqdiri (terukur) hukumnya boleh karena ada indikasi sebab-akibat, misalnya ramalan (prediksi) cuaca, meramal kapan buah dari suatu tanaman bisa dipetik, memprediksikan keuntungan perusahaan di akhir bulan, dll.

Kenapa meramal bisa termasuk kesyrikan

Karena meramal berarti mengklaim bisa mengetahui hal ghaib. Sedangkan hal ghaib adalah hak khusus Allah saja, hanya Allah yang tahu hal gaib. Allah Ta’ala berfirman.

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah, tidak ada satupun di langit dan dibumi yang mengetahui hal ghaib, kecuali Allah. (QS. An-Naml: 65).

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (Al-An’am: 59)

Karenanya zodiak atau perbintangan dan menebak sifat dan peruntungan dengan menggunkan ilmu nujum dilarang dalam agama Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ، اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ

Siapa yang mempelajari ilmu nujum (perbintanga/zodiak), berarti dia telah mempelajari sepotong bagian ilmu sihir. Semakin dia dalami, semakin banyak ilmu sihir pelajari. (HR. Ahmad, dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Termasuk dalam hal ini adalah anggapan sial (thiyarah), misalnya golongan darah atau zodiak ini berarti sedang kurang beruntung dalam masalah keuangan dan asmara. Padahal tidak ada sebab dan indikasinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، ثَلَاثًا

Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, (3 kali)” (HR. Ahmad, dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Demikian juga dilarang mendatangi dukun dan peramal. Walaupun hanya sekedar iseng-iseng saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّد

Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal, lalu ia mempercayai ucapan dukun atau peramal tersebut maka ia telah kafir terhadap (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad -shallallahu’alaihi wa sallam-.” (HR. Ahmad, lihat Ash-Shahihah: 3387)

Kesimpulan

Sebaiknya hindari meramal karakteristik berdasarkan golongan darah walaupun sekedar iseng saja, karena tidak terbukti baik secara syar’i maupun qadari dan dikhawatirkan terjerumus dalam kesyirikan yang merupakan larangan terbesar dalam agama dan pelakunya bisa terancam kekal di neraka.

Demikian semoga bermanfaat.

Keutamaan Bulan Sya’ban

Posted on

4686537_20130118082930

Alhamdulillah, sebentar lagi kita akan menginjak tanggal 1 Sya’ban. Namun kadang kaum muslimin belum mengetahui amalan-amalan yang ada di bulan tersebut. Juga terkadang kaum muslimin melampaui batas dengan melakukan suatu amalan yang sebenarnya tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga dalam tulisan yang singkat ini, Allah memudahkan kami untuk membahas serba-serbi bulan Sya’ban. Dan kami di website ini, akan membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian.

Allahumma a’in wa yassir (Ya Allah, tolong dan mudahkanlah kami).

Keutamaan Bulan Sya’ban

Dari Usamah bin Zaid, beliau berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa selama sebulan dari bulan-bulannya selain di bulan Sya’ban”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits di atas terdapat dalil mengenai dianjurkannya melakukan amalan ketaatan di saat manusia lalai. Inilah amalan yang dicintai di sisi Allah.” (Lathoif Al Ma’arif, 235)

Banyak Berpuasa di Bulan Sya’ban

Terdapat suatu amalan yang dapat dilakukan di bulan ini yaitu amalan puasa. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri banyak berpuasa ketika bulan Sya’ban dibanding bulan-bulan lainnya selain puasa wajib di bulan Ramadhan.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha juga mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)

Dalam lafazh Muslim, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya. Namun beliau berpuasa hanya sedikit hari saja.” (HR. Muslim no. 1156)

Dari Ummu Salamah, beliau mengatakan,

أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلاَّ شَعْبَانَ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam setahun tidak berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Sya’ban, lalu dilanjutkan dengan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Lalu apa yang dimaksud dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya (Kaana yashumu sya’ban kullahu)?

Asy Syaukani mengatakan,  “Riwayat-riwayat ini bisa dikompromikan dengan kita katakan bahwa yang dimaksud dengan kata “kullu” (seluruhnya) di situ adalah kebanyakannya (mayoritasnya). Alasannya, sebagaimana dinukil oleh At Tirmidzi dari Ibnul Mubarrok. Beliau mengatakan bahwa boleh dalam bahasa Arab disebut berpuasa pada kebanyakan hari dalam satu bulan dengan dikatakan berpuasa pada seluruh bulan.” (Nailul Author, 7/148). Jadi, yang dimaksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di seluruh hari bulan Sya’ban adalah berpuasa di mayoritas harinya.

Lalu Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak puasa penuh di bulan Sya’ban?

An Nawawi rahimahullah menuturkan bahwa para ulama mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyempurnakan berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan agar tidak disangka puasa selain Ramadhan adalah wajib. ”(Syarh Muslim, 4/161)

Di antara rahasia kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban adalah karena puasa Sya’ban adalah ibarat ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Sebagaimana shalat rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Sya’ban. Karena puasa di bulan Sya’ban sangat dekat dengan puasa Ramadhan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab, 233)

Hikmah di Balik Puasa Sya’ban

1. Bulan Sya’ban adalah bulan tempat manusia lalai. Karena mereka sudah terhanyut dengan istimewanya bulan Rajab (yang termasuk bulan Harom) dan juga menanti bulan sesudahnya yaitu bulan Ramadhan. Tatkalah manusia lalai, inilah keutamaan melakukan amalan puasa ketika itu. Sebagaimana seseorang yang berdzikir di tempat orang-orang yang begitu lalai dari mengingat Allah -seperti ketika di pasar-, maka dzikir ketika itu adalah amalan yang sangat istimewa. Abu Sholeh mengatakan, “Sesungguhnya Allah tertawa melihat orang yang masih sempat berdzikir di pasar. Kenapa demikian? Karena pasar adalah tempatnya orang-orang lalai dari mengingat Allah.

2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa setiap bulannya sebanyak tiga hari. Terkadang beliau menunda puasa tersebut hingga beliau mengumpulkannya pada bulan Sya’ban.  Jadi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki bulan Sya’ban sedangkan di bulan-bulan sebelumnya beliau tidak melakukan beberapa puasa sunnah, maka beliau mengqodho’nya ketika itu. Sehingga puasa sunnah beliau menjadi sempurna sebelum memasuki bulan Ramadhan berikutnya.

3.  Puasa di bulan Sya’ban adalah sebagai latihan atau pemanasan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jika seseorang sudah terbiasa berpuasa sebelum puasa Ramadhan, tentu dia akan lebih kuat dan lebih bersemangat untuk melakukan puasa wajib di bulan Ramadhan. (Lihat Lathoif Al Ma’arif,  hal. 234-243)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kita mengikuti suri tauladan kita untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Semoga dengan melakukan hal ini kita termasuk orang yang mendapat keutamaan yang disebutkan dalam hadits qudsi berikut.

وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506). Orang yang senantiasa melakukan amalan sunnah (mustahab) akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya (terkabulnya) do’a. (Faedah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad)

-bersambung ke pembahasan “Malam Nishfu Sya’ban“-

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.rumaysho.com

Keutamaan Bulan Rajab

Posted on

Night-Sky-Wallpaper-03

Keutamaan Bulan Rajab, ia merupakan salah satu dari bulan haram. Di mana bulan haram ini adalah bulan yang dimuliakan. Bulan ini adalah yang dilarang keras melakukan maksiat, serta diperintahkan bagi kita untuk beramal sholih.

Bulan Rajab adalah Bulan Haram

Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadal Akhiroh dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” (Latho-if Al Ma’arif, 202)

Mengenai empat bulan yang dimaksud disebutkan dalam hadits dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679). Jadi, empat bulan suci tersebut adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.

Apa Maksud Bulan Haram?

Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna:

  1. Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.
  2. Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Masiir, tafsir surat At Taubah ayat 36)

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya. Lihat Latho-if Al Ma’arif, 214. Ulama Hambali memakruhkan berpuasa pada bulan Rajab saja, tidak pada bulan haram lainya. Lihat Latho-if Al Ma’arif, 215.

Namun sekali lagi, jika dianjurkan, bukan berarti mesti mengkhususkan puasa atau amalan lainnya di hari-hari tertentu dari bulan Rajab karena menganjurkan seperti ini butuh dalil. Sedangkan tidak ada dalil yang mendukungnya. Lihat bahasan Muslim.Or.Id sebelumnya: Adakah Anjuran Puasa di Bulan Rajab?

Ibnu Rajab Al Hambali berkata, ”Hadits yang membicarakan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, begitu pula dari sahabatnya.” (Latho-if Al Ma’arif, 213).

Hati-Hati dengan Maksiat di Bulan Haram

Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)

Bulan Haram Mana yang Lebih Utama?

Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun Imam Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh Imam Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh penulis Latho-if Al Ma’arif (hal. 203), yaitu Ibnu Rajab Al Hambali.

Semoga bulan Rajab menjadi ladang bagi kita untuk beramal sholih.

@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, diselesaikan 27 Jumadal Akhiroh 1434 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id